-->


Sosok Berjubah Serba Hitam

JubahHitam

SOSOK BERJUBAH HITAM

T

ak ada gading yang tak retak. Tidak pas sebetulnya aku mengucapkan kata-kata itu. Tapi ada satu alasan mengapa aku menulis demikian. Karena apa? Tidak ada manusia yang sempurna, semua pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Gunakanlah kelebihan itu untuk menghargai orang yang ada di sekitar kita. Tak ubahnya seperti seekor keledai yang bergegas pergi melewati padang Masaimara nun jauh di Afrika sana dan kembali pulang dengan topeng sang raja rimba yang angkuh. Mereka sudah lupa dengan apa yang telah diamanahkan oleh-Nya kala belum tercipta.

Meski sebetulnya aku sendiri merasa gelisah atas apa yang telah kuperbuat. Mengambil resiko yang tidak kecil. Menjadi seorang pecundang atau pengecut, bersembunyi di balik ketiak ketakutan melawan zaman yang semakin tua. Zaman Edan, begitu orang-orang menyebut zaman di Millenium ke 3 ini. Lawan bisa menjadi kawan, kawan bisa menjadi lawan. Yang kuat dialah yang menang. Tapi apakah kau tidak sadar kawan! Masih ada langit diatas langit. Dan akan kubuktikan itu!







*****


Kulihat jam berdenting tepat pukul 02.00 pagi. Masih buta sekali. Nyala rembulan sudah terlihat pucat pasi. Seakan sudah enggan untuk mengerlipkan bias sinarnya. Kupandangi atap langit lewat genting kaca kamarku. Angin bergerak pelan mengiringi melodi alunan gerak dedaunan di atas genting kaca atas atap rumahku. Suasana masih sepi. Sesepi gedong tua yang telah ditinggalkan pemiliknya tahunan lamanya. Aku mulai berangsur-angsur bergerak, menggeser posisi badanku. Mataku masih terasa perih dan kian lama makin terasa perih. Rasa kantuk masih membebani kelopak mataku, terasa berat sekali. Kulihat lagi rembulan, dia masih seperti yang tadi. Lama-kelamaan aku bosan. Bosan dengan kehidupanku yang tak menentu, dan bosan karena aku tak juga menemukan jalan keluar. Sebuah dilematis tingkat tinggi ala kaum Psychopat yang telah membunuh 99 orang dan hendak membunuh 1 orang lagi supaya genap 100. Sebuah penyakit kejiwaan akut yang timbul dari jiwa yang kalut.

Lama-lama mataku terpincing. Sepoi angin meniupkan siulan mematikan kepadaku. Tak kuasa aku menahannya. Semakin kutahan, rasa kantuk yang mematikan itu semakin menjadi-jadi. Untuk mengobatinya dengan tertatih-tatih, aku segera melaksanakan shalat malam seperti yang disunnahkan oleh junjungan umat sedunia Nabi Agung Muhammad SAW.

Setelah itu aku kembali ke tempat semula. Tempat tidurku masih setia menungguku. Kurebahkan badan diantara sandaran tangan. Sudah hampir 1 jam berlalu dan aku mulai terjaga. Diantara terjaga itu, perasaanku menjadi tak enak. Seakan-akan ada suara lirih yang mengendap di hati. Suara apakah itu? Suara siapakah itu? Suara itu semakin mengecil dan kemudian menghilang lenyap bersama bias rembulan yang meredup dan rasa kantuk yang mengantar tidurku …

*****


Kulirik sana-sini, jalanan telah sepi. Gang-gang jalan sepi. Hanya desisan angin yang bergesekan dengan dedaunan diatas dahan. Tak ada makhluk hidup yang berpapasan denganku. Hanya jangkrik dan serangga kecil yang menatapku dengan perasaan angkuh. Seperti keangkuhan Kekaisaran Kubilai Khan dari Mongol yang hendak menyerang Negeri Tirai Bambu dari balik Tembok China. Tapi tak kuhiraukan itu. Aku tetap pada pandanganku. Pandangan penuh rasa waswas yang berlebih bila melihat jalanan yang begitu sepi dan melankoli.

Sontak aku terkejut. Tak tahu dari mana datangnya. Seorang datang kepadaku. Dia memakai kerudung dan jubah serba hitam. Wajahnya tak tampak. Dia berjalan cepat menuju ke arahku. Ditangannya kulihat bawaan serupa kantung. Dia semakin dekat .. dekat dan dalam hitungan kedipan mata, dia sudah ada didepanku, persis didepanku. Aku merasa gemetar. Keringat dingin mulai bercucuran di sela-sela pori-pori jidatku dan leher. Dia segera mengulurkan tanan yang membawa bawaan tadi. Dia tetap tak terlihat meski sudah sedekat itu. Akupun tetap tak mampu melihat wajahnya. Segera dia memberikan kantung itu. Tanganku serasa ada yang menuntun untuk menerimanya. Tiba-tiba benda serupa kantung itu telah berpindah tangan kepadaku.

Lalu dia segera lari meninggalkanku sendiri disini. Aku tidak bisa bicara dan diapun tidak bicara meski sepatah dua patah kata. Kami berdua bagaikan dua makhluk dari antah berantah yang sengaja dipertemukan secara tiba-tiba tanpa bicara sepatah kata. Kemudian aku buka kantung itu, Astaga. Ternyata isinya yang tak terkira jumlahnya, Yang jelas jumlahnya sangat banyak. Ada apa ini sebenarnya? Ada apa gerangan dengan orang tadi. Kenapa dia memberikan uang begitu banyak yang jelas itu bukan hakku. Kulihat orang itu semakin mengecil. Mengecil bukan karena badannya menyusut, tapi karena langkah kakinya semakin menjauh dari posisiku berdiri.

Belum selesai aku terlena dalam sebuah peristiwa. Aku melihat lagi banyangan hitam yang bergerak cepat datang ke arahku. Kali ini berbeda. Jumlahnya lebih banyak. Berlipat-lipat dari yang tadi. Kulihat dengan seksama, ada seberkas sinar merah kembar membara dan kilauan benda yang kelihatannya terbuat dari besi. Lalu ada lagi terlihat air yang menetes dari sela-sela giginya yang tajam seperti air liur macan Afrika yang kelaparan dan siap menerkam seekor anak Menjangan yang tengah sendirian.

Aku mulai tergagap-gagap. Kulihat lagi. Kututup mata rapat-rapat. Dan segera kubuka lagi. Sekarang semakin jelas. Ternyata puluhan orang tadi serta merta membawa berbilah-bilah benda tajam. Mereka semakin dekat dan semakin mendekat. Tak berpikir panjang, akupun lari sekuat tenaga. Aku mulai mencari jalan dan tergagap-gagap karena jalanan gelap gulita. Kukira mereka mengejar yang lain, ternyata tidak. Mereka mengejarku. Baru aku tersadar bahwa kantung itu yang mungkin sedang diincarnya. Belum selesai aku berpikir, didepanku jalan buntu. Aku mulai mati rasa. Tulangku dan sendiku seakan tak mau diajak kompromi. Sontak bersama-sama diam dan tak mau bergerak.

*****


Secara tak terduga, mereka telah mengepungku. Menatapku dengan liarnya. Seperti liarnya buaya di sungai Amazon yang berhari-hari tidak makan dan menemukan mangsanya. Aku hanya bisa berdoa. Tak terasa air mata mulai jatuh di kedua pipiku. Aku tetap tidak bisa bicara. Aku takut. Ketakutanku melebihi ketakutan seorang narapidana yang akan dieksekusi mati. Air mata itu kian tak terbendung. Aku mulai bersimpuh dan memohon pada-Nya.

Tak lama dalam hitungan sekejap, awan mulai bergemuruh. Angin yang semula sepoi sekarang berubah bentuk menjadi gumpalan angin serupa Tornado. Tanah-tanah mulai terbelah, bergetar hebat tak karuan. Semuanya terasa bergetar. Serasa gempa bumi. Para orang-orang ini mulai kalut dan mengalihkan pandangannya di sekelilingnya. Kesempatan itu kugunakan untuk bersembunyi dibawah gorong-gorong. Dan benar. Bencana dahsyat itu datang. Orang-orang itu mulai terombang-ambing oleh keganasan Sang Alam. Aku menunduk menelungkupkan badan, mataku terpejam.

Keganasan alam itu seperti amukan seekor Naga ganas yang marah dan hendak membumi hanguskan sebuah desa. Sebuah pemandangan yang memilukan sekaligus miris. Ketika orang-orang angkuh itu lapar dan akan memangsa yang lemah. Mereka tidak tahu, bahwa alampun sebenarnya tengah lapar dan tengah bersiap untuk memakan mereka. Sebuah rantai makanan ciptaan-Nya yang begitu Adil dan Bijaksana.

Lama-lama getaran itu mulai menghilang. Aku berani muncul ke permukaan. Air mata di kedua pipiku segera kuusap dengan lenganku yang kotor. Kuliat mereka sudah binasa, termakan keganasan alam. Nyawa-nyawa bergelimpangan, melayang tinggi ke angkasa. Membumbung tinggi tak tahu entah kemana. Dan sekarang aku kembali sendiri lagi. Sendiri di jalanan yang sepi. Kutiti jalanan dimana orang berjubah hitam itu pergi. Aku seakan tak percaya dengan apa yang tengah kulihat. Setelah sekian jauh aku berjalan, aku menemukan seonggok benda hitam terkapar di tepi jalan. Aku mulai mendekat ingin tahu siapa gerangan dibalik jubah hitam itu. Aku mendekat lagi. Kujulurkan tanganku dengan perasaan gemetar. Ingin kubuka jubah hitam yang menutupi badan dan wajahnya itu. Segera aku buka dengan perlahan. Dan …. Sungguh !! sungguh !! dia adalah orang yang kukenal … aku kenal orang itu …. Tiba-tiba aku lemas, mataku kabur dan kuliat kunang-kunang dan …..

*****


Aku tergagap. Astaga! Itu cuma mimpi. Aku mimpi buruk. Tanganku gemetar. Badanku menggigil. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Apakah itu benar-benar mimpi?









Aku pernah mendengar cerita dari orang tua, bahwa mimpi di 1/3 malam yang terakhir disebut mimpi Puspa Tajam. Yakni mimpi yang kemungkinan akan terjadi. Mimpi Puspa Tajam bagaikan serpihan kehidupan didalam alam nyata yang berlangsung di waktu yang akan datang. Lalu kusiap-siap melaksanakan kewajiban-Nya. Kokok ayam belum berbunyi. Dengungan adzan belum berkumandang. Disela-sela itu aku lantas berpikir apa yang baru saja aku alami. Kupandangi dinding kamarku. Dialah saksi biksu. Entah apakah ini sudah terjadi, sedang terjadi atau akan terjadi. Tapi yang jelas yang aku ingat betul adalah kejadian itu seolah-olah nyata. Nyata diantara alam mimpi dan alam nyata yang telah kulalui dan akan kulalui. Entahlah ……

cerpenku

agung
Blogger Yang Baek, Meninggalkan Jejak Berupa Komentar

Agan jadi Cuapers ke 0, CONGRATULATE !

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57
:58

Jangan lupa ada emo Kaskus diatas CommentBox Ini. Langsung dicoba gan ? Entar ane kasih cendol dah.

Protected by Copyscape Web Plagiarism Software
English French German Spain Italian DutchRussian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified