-->


Surat Cinta Remaja Masa Kini

SuratCinta

DINA, bukan nama merk panci atau kulkas, bukan pula merk wajan tempat ibuku menggoreng tahu dan tempe buat sarapan. Dina, tentu saja Dina itu adalah nama cewek, kalo cowok tentu bukan Dina namanya, tapi Dono. Dina adalah nama cewek yang sedang kutaksir selama ini. Hidungnya mancung, kayak orang Arab, katanya. Tapi sayang, bulu hidungnya menjulur keluar dan menggantung seakan ingin keluar dari kedua lubang hidungnya, oleh sebab itu lobang hidungnya ketutup semua ama rambut bulu hidungnya yang bak konon hutan rimba belantara dari hutan Amazon sana. Meski begitu, bagiku itu nggak masalah, selama hidungnya masih berada di depan.

Wajahmu juga sungguh putih menawan, Dina. Putih seputih salju yang ada di Kutub Utara. Lama-lama aku amati dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ternyata wajahmu putih karena bedakmu belepotan kesana kemari memenuhin muka, tapi setelah kuteliti lebih jauh lagi dengan mikroskop elektron, warna putih itu ternyata bukan bedak, melainkan panu yang setia menjamur memenuhi muka kamu. Tapi aku tetep nggak masalah, selama wajah kamu nggak serong ke kiri atau ke kanan.

Lalu kulihat badanmu, sungguh aduhai. Bila berjalan, bebek dan angsa pasti iri melihatnya. Tegak berdiri, anggun mewarnai pemandangan mata yang mengiringimu berjalan. Tapi, kakimu yang agak kurang mengasyikkan. Karena betismu kayak atlet lari marathon yang besarnya seperti betis badak bercula. Sungguh terlalu. Tapi, sekali lagi, hal itu nggak masalah selama kamu masih memiliki jari yang lengkap. Meski, sebetulnya aku juga ragu mengatakan hal itu, karena ternyata jari-jari kakimu ibu jari semua.

Satu hal yang pasti, aku kepingin berduaan denganmu. Saat kita berduaan semalam di teras rumah, kamu bicara pelan dan aku nggak mendengar. Setelah agak kencang bicara, BUSYET! napasmu bau naga, hampir pingsan aku dibuatnya. Kualihkan hidungku, dengan pura-pura menutupnya, dengan alasan klasik, Pilek menyerang. Kualihkan lagi pandanganku ke matamu yang elok, eeee kamu nggak membalas tatapan mataku, mata kamu malah melirik di sebelahku. Aku nggak tau, kamu nggak nakir aku, ato mata kamu emang juling. Tapi itu no problem selama kita masih berdua.

Terakhir aku nitip salam ini buat nenek sama kakekmu di desa.
Buat kamu, tetep menjadi Dina, jangan menjadi Dono.
Be Yourself.

Paijo Kundil Bin Karman Sumitro Binti Siti Maemun.
Di kota yang selalu necis.
Biar nggak dianggap ndeso.

Hehe ... kasih Cendol ya gan ?? Wkwkwkw

Laughing
Blogger Yang Baek, Meninggalkan Jejak Berupa Komentar

Agan jadi Cuapers ke 0, CONGRATULATE !

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57
:58

Jangan lupa ada emo Kaskus diatas CommentBox Ini. Langsung dicoba gan ? Entar ane kasih cendol dah.

Protected by Copyscape Web Plagiarism Software
English French German Spain Italian DutchRussian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified